Ikhlas, Benar dan Berkualitas

-->
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Anda perlua melakukan upgrade ke Flash Player versi 10 atau di atasnya.

 

Dalam usaha membangun Polri yang profesional perlu diperhatikan kesejahteraan dan pengembangan karir. Tanpa dua hal itu, kiranya sulit terwujud polisi berkinerja optimal sebab tanggung jawabnya semakin berat.
Hal itu dikatakan Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Irjen Pol Drs. Syafruddin M.Si, usai membuka acara Pelatihan Calon Trainer Revolusi Mental Tingkat Polda Kalsel Tahun Angkatan 2016, di SPN Polda Kalsel Kota Banjarbaru, Senin (4/1).
Dihadapan Kapolda Kalsel Brigjend Pol. Agung Budi, serta pejabat utama Polda Kalsel dan Kapolres se Kalsel serta 80 peserta calon trainer. Mantan Kapolda Kalsel ini mengungkapkan, yang diutamakan dalam usaha membangun Polri adalah kesejahteraan dan pengembangan karir mereka. Tanpa dua hal itu, kiranya sulit terwujud kinerja yang baik. Dicontohkan bagaimana berat tanggung jawab polisi. Misal, yang bertugas sebagai penyidik, dikejar-kejar menyelesaikan masalah, tapi anggarannya minim.
Ia melihat tuntutan ekspektasi publik sangat tinggi kepada polisi, tapi dua hal tidak terpenuhi. Kesejahteraan dan harapan yaitu keinginan karir berkembang. “Dua hal ini harus simultan, yang bertanggung jawab kita semua, negara, pimpinan Polri dan masyarakat. Masyarakat juga harus bertanggung jawab. Opini publik yang digarap oleh media harus bertanggung jawab. Beritanya harus berimbang. Opini yang jelek harus dihabisi. Prestasi Polri harus diopinikan. Jangan dibalik dan dicurigai,” jelas Syafruddin.
“Bagaimana polisi mau menangkap penjahat, kalau bensinnya hanya 5 liter atau 10 liter sehari. Bagaimana dia mau berpatroli di hight way atau sepanjang jalan masuk ke pedesaan kalau uang makannya tidak ada. Padahal yang sangat dibutuhkan anggaran operasional supaya polisi berpatroli sehari semalam.”
Tugas Polri sebagai pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat. Jadi harus mengikuti apa yang diinginkan oleh publik, bukan demi pencitraan yang tidak ada manfaatnya.
Ia mengakui bahwa dari 425 ribu polisi tidak mungkin bersih semua, di seluruh dunia apapun pasti ada oknum. Tidak pernah institusi polri berbuat kesalahan. Nol koma nol sekian persen polisi yang tidak baik, tapi diblow up terus oleh media. Apa boleh buat memang kondisinya begitu sekarang.
“Oknum itu ada dimana-mana, tidak semua polisi bersih. Di Amerika polisinya diserang, dibakar dan dilawan oleh rakyat, padahal bagaimana sejahteranya mereka. Mereka punya anggaran dan gaji yang tinggi, toh tetap ada oknum yang berperangai buruk,” pungkasnya.
Revolusi Mental
Pemerintahan Jokowi-JK yang mengusung konsep revolusi mental secepatya direspon oleh Syafruddin lewat penyusunan kurikulum. Seterusnya kurikulum disesuaikan dengan revolusi mental. Revolusi mental itu bukan hanya ditujukan untuk manusia, tapi juga institusi, infra struktur dan sistem organisasinya. Bukan hanya mental polisi yang direvolusi. Kalau mental polisi bagus, tapi karir dan kesejahteraan tidak terpenuhi maka dia tidak akan banyak berperan.
Syafruddin mengungkapkan bahwa institusi Polri sudah melaksanakan semua program revolusi mental yang dicanangkan presiden. Ini sudah berjalan dalam program-program dan strategi kebijakan sampai taktik teknisnya.
“Tanpa berniat mengenyampingkan lembaga-lembaga lainnya, institusi Polri sudah melaksanakan kurikulum revolusi mental. Bahkan program Polri sebagai penjabaran dari tindak lanjut perintah presiden telah dilaksanakan. Namanya program revolusi mental,” kata Syafruddin menjelaskan.
Model pelatihan sudah dibikin, program pemerintah Presiden Jokowi dengan revolusi mentalnya, dibuat pelatihan dari tingkat pusat sampai polda, polres, polsek. Jadi ini bukan hanya di Akpol atau di lembga pendidikan, tapi seluruh anggota Polri.
Menurut Syafruddin, konsep pembelajaran dan pelatihan bertujuan agar mental berubah sesuai keinginan presiden. Supaya mental bangsa ini berubah, bukan hanya mental polisi. “Walaupun ini masih di atas kertas, tapi saya sudah implementasikan dalam TOT (training of trainer),” ujarnya.
Konsep kurikulum revolusi mental ini harus mengalir ke seluruh anggota Polri yang jumlahnya 425 ribu orang. Karena itu dibuat TOT di tingkat pusat, untuk guru-guru, pelatih dan pengajar, lalu digulirkan ke propinsi, kemudian dididik lagi di propinsi dan mengalirkannya ke polres. Dari polres ke polsek sehingga dalam satu tahun anggota Polri sudah mengikuti training. Training selama dua minggu, branwashing sehingga mindset berfikirnya atau revolusi mentalnya tercapai. Training dipersiapkan dengan matang. Para instruktur atau tutornya polisi senior dan terbaik.
“Mereka adalah polisi senior dan yang bagus. Polisi mempunyai banyak doktor atau orang pintar yang memiliki kapabilitas dan integritas dan kapasitas intelektual. Itu yang jadi tutornya, dan timeline training ini untuk satu tahun,” kata Syafruddin.
Wendy/arif/tribratanewspoldakalsel


Official Link

  • Tribrata News
  • Mabes Polri
  • Promoter.
  • Polda Kalsel